the gist.
Hanya yang berubah di dunia hari ini

Security

Houthi Kuasai Titik Strategis Laut Merah: Apa Tujuan Mereka?

11 September 2026·4 menit baca
Illustration: The Gist · Ilustrasi editorial yang dibuat dengan AI

Baru-baru ini, pemberontak Houthi di Yaman berhasil menguasai Pelabuhan Mokha dan Pulau Perim, memperluas pengaruh mereka di Selat Bab el-Mandeb. Langkah ini lebih dari sekadar ekspansi teritorial. Apa tujuan strategis mereka di wilayah ini, dan bagaimana perubahan ini akan mempengaruhi keamanan maritim dan perdagangan internasional di masa depan?

Penguasaan Houthi atas Pelabuhan Mokha dan Pulau Perim di Yaman menunjukkan niat strategis mereka untuk mengendalikan Selat Bab el-Mandeb. Mokha adalah titik penting dalam jalur laut antara Laut Merah dan Teluk Aden, sementara Pulau Perim memberikan keunggulan geografis untuk mengawasi atau memblokir lalu lintas laut. Ini bukan sekadar kemenangan militer, tetapi langkah untuk memperluas pengaruh ekonomi dan politik melalui jalur laut.

Menurut laporan Al Jazeera, dengan menguasai Mokha, Houthi kini memiliki posisi untuk mengepung Selat Bab el-Mandeb. Selat ini adalah jalur lalu lintas laut yang menyumbang sekitar 10-12 persen perdagangan dunia, dan dengan lebar hanya sekitar 20 km, dapat terancam oleh artileri atau drone. Ini menunjukkan bahwa Houthi tidak hanya memperluas wilayah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memanfaatkan jalur laut sebagai senjata.

Council on Foreign Relations menyamakan strategi Houthi ini dengan 'Hormuz yang lain', memperingatkan bahwa Selat Bab el-Mandeb bisa menjadi medan pertempuran geopolitik baru antara Iran dan Amerika Serikat. Dengan Selat Hormuz yang diblokir oleh pengaruh Iran, Arab Saudi telah mengandalkan Laut Merah sebagai jalur ekspor alternatif, namun penguasaan Houthi atas selat ini juga mengancam jalur tersebut.

Laporan dari U.S. Naval Institute kepada Kongres menyatakan bahwa perang saudara di Yaman telah berlangsung sejak 2015, dan Houthi mengendalikan sebagian besar wilayah barat laut termasuk ibu kota Sanaa. Selat Bab el-Mandeb menjadi semakin penting sebagai jalur alternatif untuk pengiriman energi dan barang, mengingat Selat Hormuz hampir diblokir. Penguasaan Houthi atas selat ini dinilai sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas rantai pasokan internasional.

Centre for Peace Studies menganalisis strategi maritim Houthi sebagai evolusi dari 'gangguan menjadi pemaksaan'. Aktivitas maritim Houthi yang awalnya simbolis kini beralih ke pemungutan biaya transit atau blokade laut untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan kekuatan negosiasi politik. Ini menunjukkan bahwa Houthi telah menjadi aktor utama dalam keamanan maritim regional.

Washington Post menganalisis bahwa penguasaan selat oleh Houthi memberikan Iran keuntungan baru dalam konflik dengan Amerika Serikat. Arab Saudi, yang bergantung pada Laut Merah untuk ekspor setelah blokade Hormuz, kini terancam oleh Houthi. Ini menunjukkan bahwa Houthi telah menjadi faktor yang mengganggu keseimbangan strategis antara kekuatan regional.

Menurut Le Monde, pertempuran paling sengit di Yaman baru-baru ini terjadi seiring dengan kemajuan Houthi menuju Selat Bab el-Mandeb. Mereka melancarkan serangan menggunakan roket dan drone di dekat Mokha, yang tampaknya bukan sekadar operasi militer, tetapi titik balik strategis untuk menguasai selat. Serangan ini mengisyaratkan kemungkinan kembalinya perang besar-besaran.

Le Monde mencatat bahwa setelah Houthi mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Saudi pada bulan Juli, Selat Bab el-Mandeb muncul sebagai front baru dalam perang antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan yang meningkat di wilayah ini memiliki potensi untuk mengubah dinamika geopolitik di seluruh Timur Tengah.

Media Eropa baru-baru ini memperingatkan bahwa krisis Laut Merah, bersama dengan blokade Selat Hormuz, dapat memperburuk krisis minyak global. Dengan kemacetan di Terusan Suez, ada kekhawatiran bahwa kemacetan lalu lintas laut dapat menyebabkan gangguan rantai pasokan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, keberhasilan strategi Houthi masih belum pasti. Tanggapan komunitas internasional, terutama kemungkinan intervensi militer dan diplomatik oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi, tetap menjadi faktor penentu. Selain itu, keterbatasan sumber daya internal Houthi atau potensi perpecahan di dalam kelompok pemberontak juga dapat mengancam keberlanjutan strategi ini.

Strategi Houthi di Laut Merah membuka babak baru yang mempengaruhi perdagangan internasional dan keamanan energi, lebih dari sekadar ekspansi teritorial. Untuk stabilitas di wilayah ini, diperlukan pendekatan berlapis yang mencakup respons militer, kerja sama keamanan maritim, mediasi diplomatik, dan solusi politik internal Yaman. Pembaca diingatkan bahwa Selat Bab el-Mandeb bukan sekadar selat, tetapi panggung strategis yang dapat menentukan arah geopolitik Timur Tengah dan dunia.

Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi AI berdasarkan sumber yang tersedia untuk publik dan telah melalui proses verifikasi fakta dan sumber The Gist. Sumber asli tercantum di bawah. Kesalahan dan koreksi: corrections@thegist.co.kr

Sumber

Houthi Kuasai Titik Strategis Laut Merah: Apa Tujuan Mereka? — the gist.