Security
Serangan Udara di Lebanon Selatan: Pertanyaan di Balik Ketegangan

Sebuah desa di Lebanon Selatan kembali hancur akibat serangan udara. Pada 7 September 2026, serangan Israel menewaskan setidaknya 12 orang, termasuk dua anak-anak. Meski ada gencatan senjata, serangan ini menimbulkan pertanyaan apakah ini sekadar balasan atau bagian dari strategi Israel untuk mengamankan 'zona aman'.
Menurut laporan Al-Monitor, serangan ini terjadi di desa Kafr Rumman, Lebanon Selatan, menghancurkan bangunan tempat tinggal dan menewaskan anak-anak serta tenaga medis. Militer Israel mengklaim bahwa mereka menargetkan pergerakan senjata oleh kelompok bersenjata, tetapi penduduk setempat merasa putus asa, bertanya apakah mereka diinginkan untuk meninggalkan tanah mereka. Kerugian sipil yang terus berulang ini menimbulkan pertanyaan tentang adanya niat strategis di balik tindakan militer ini.
Untuk memahami lebih dalam, kita perlu melihat konteks strategi 'zona aman' yang ditetapkan Israel. Pada Juni 2026, dengan mediasi AS, Lebanon dan Israel menyepakati kerangka kerja yang mencakup penarikan pasukan Israel, penempatan pasukan Lebanon, dan pelucutan senjata Hizbullah. Namun, Israel tetap mempertahankan pengaruh militer di Lebanon Selatan dan terus melakukan serangan udara, menunjukkan bahwa strategi ini mungkin lebih dari sekadar langkah damai, tetapi juga upaya untuk mengamankan 'zona penyangga' jangka panjang.
Untuk memahami bagaimana strategi ini beroperasi, kita harus melihat arti penting dari lokasi strategis yang dikuasai Israel, terutama 'Punggung Ali Taher'. Daerah ini dikenal sebagai lokasi infrastruktur militer bawah tanah Hizbullah, dan setelah mengamankan daerah tersebut, Israel meningkatkan serangan udara di desa-desa sekitar. Ini mungkin bukan sekadar respons, tetapi upaya untuk mencegah kebangkitan Hizbullah dengan mengamankan lokasi strategis.
Namun, strategi ini memiliki batasan yang jelas. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak Maret, lebih dari 4.300 orang tewas akibat serangan Israel, termasuk lebih dari 250 anak-anak dan hampir 400 wanita. Lebih dari 130 tenaga medis juga tewas, dan banyak infrastruktur sipil hancur. Kerugian sipil yang besar ini melemahkan legitimasi hukum dan moral internasional, dan dapat berbalik merugikan pencapaian tujuan strategis.
Ada pandangan lain yang menyatakan bahwa serangan ini adalah respons yang sah terhadap provokasi Hizbullah. Israel menyatakan bahwa Hizbullah melakukan serangan drone di dekat Punggung Ali Taher, menekankan bahwa serangan ini adalah respons militer. Dalam pandangan ini, kerugian sipil dianggap sebagai 'realitas medan perang' yang tak terhindarkan.
Namun, dampak jangka panjang dari respons ini tidak pasti. Meskipun penguasaan lokasi strategis dapat melemahkan kekuatan militer Hizbullah, kerugian sipil dan kemarahan dapat memperkuat dukungan masyarakat terhadap Hizbullah. Selain itu, serangan yang berulang dapat membuat gencatan senjata semakin rapuh dan berisiko memicu konflik yang lebih besar.
Pertanyaan yang tersisa adalah apakah strategi ini benar-benar berkelanjutan. Untuk mencapai legitimasi yang melampaui pengorbanan sipil dan kemarahan masyarakat, tujuan mengamankan lokasi strategis dan menahan Hizbullah harus disertai solusi politik dan diplomatik. Jika tidak, 'zona aman' ini bisa menjadi benih konflik di masa depan.
Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi AI berdasarkan sumber yang tersedia untuk publik dan telah melalui proses verifikasi fakta dan sumber The Gist. Sumber asli tercantum di bawah. Kesalahan dan koreksi: corrections@thegist.co.kr
Sumber
- S1 — AL-MONITOR2026-09-07 · diakses 2026-09-07
- S2 — Le Monde2026-09-02 · diakses 2026-09-07
- S3 — Council on Foreign Relations2026-05-13 · diakses 2026-09-07
- S4 — El País2026-09-07 · diakses 2026-09-07