Economy & Markets
Dampak Risiko Timur Tengah pada Pasar Saham Korea

Pada 24 Juli 2026, ketegangan antara AS dan Iran meningkat tajam, menyebabkan lonjakan harga minyak internasional dan suku bunga obligasi AS, yang berujung pada kejatuhan KOSPI hampir 5,7% dalam satu hari. Pertanyaan yang muncul adalah apakah guncangan eksternal ini hanya reaksi sementara atau akan memicu perubahan struktural di pasar keuangan dan ekonomi riil Korea. Pertanyaan ini menjadi kunci untuk menilai respons kebijakan, psikologi investor, dan adaptasi struktur industri ke depan.
Pada 24 Juli, pasar saham Korea mengalami penurunan tajam ketika ketegangan AS-Iran meningkat, mendorong harga minyak internasional melampaui 100 dolar per barel dan imbal hasil obligasi AS 10 tahun melewati 4,7%. KOSPI turun 406 poin, sekitar 5,7%. Sementara investor asing dan institusi melakukan penjualan besar-besaran, investor individu justru membeli. Mekanisme 'sell sidecar' diaktifkan beberapa kali. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix turun 7-8%, sementara saham Samsung Biologics dan pertahanan melonjak.
Guncangan ini tidak berhenti pada penurunan satu hari. Dengan penutupan Selat Hormuz, 70% minyak yang diimpor Korea terancam, sementara cadangan minyak strategis hanya cukup untuk 26 hari. Won mencapai nilai terendah dalam 17 tahun, dan OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan Korea sebesar 0,4 poin persentase sambil menaikkan proyeksi inflasi. Pemerintah merespons dengan berbagai langkah darurat seperti pembatasan harga minyak, pelepasan cadangan minyak IEA, pengamanan minyak dari UAE, dan percepatan pengoperasian kembali pembangkit listrik tenaga nuklir.
Pada bulan Agustus, IBK Securities memperingatkan bahwa jika krisis Iran berlarut-larut, kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi dan kenaikan suku bunga hingga 2027, membebani pasar saham Korea. Mereka juga menganalisis bahwa kenaikan suku bunga AS tanpa alasan logis dapat memicu 'kemarahan suku bunga' dan penjualan panik.
Menariknya, kenaikan harga minyak memberikan peluang bagi saham terkait minyak dan energi. Pada pertengahan Juli, ketika kekhawatiran penutupan Selat Hormuz meningkat dan harga minyak melonjak, saham Heung-gu Oil naik hampir 17% dalam sehari dan S-Oil naik lebih dari 5%. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tidak selalu berdampak negatif pada semua sektor.
Ekonomi Korea terpapar pada kelemahan rantai pasokan energi dan guncangan pasar keuangan. Namun, CSIS memproyeksikan bahwa jika guncangan ini bersifat lokal, ekonomi Korea mungkin hanya mengalami 'perlambatan' sementara, dan dengan dukungan ekspor berbasis AI serta respons kebijakan, pemulihan mungkin terjadi.
KEIA juga melihat bahwa dampak konflik Timur Tengah pada ekonomi Korea mungkin terbatas. Jika konflik tetap lokal, dampaknya mungkin tidak lebih dari guncangan jangka pendek, dan jika dikombinasikan dengan stabilisasi pasokan energi dan peningkatan ekspor AI, pasar saham bisa pulih pada akhir tahun.
Namun, pasar saham Korea yang berfokus pada semikonduktor jelas rentan terhadap guncangan eksternal. Penurunan tajam saham Samsung Electronics dan SK Hynix pada 24 Juli menunjukkan risiko struktural pasar saham Korea yang terkait dengan penurunan saham teknologi global.
Meskipun respons pemerintah cepat dan berlapis-lapis, keterbatasan cadangan minyak strategis dan ketergantungan pada ekspor tetap menjadi kelemahan struktural ekonomi Korea. Khususnya, sensitivitas industri semikonduktor terhadap kondisi ekonomi global melemahkan kemampuan bertahan terhadap guncangan eksternal.
Seperti analisis IBK Securities, jika krisis Iran berlarut-larut dan suku bunga AS terus naik, pasar saham Korea bisa menghadapi perubahan struktural jangka menengah hingga panjang. Ini dapat mempengaruhi psikologi investor, prospek kinerja perusahaan, dan pergeseran struktur industri.
Namun, jika ekspor AI, daya saing teknologi, dan kapasitas respons kebijakan digabungkan, pasar saham Korea bisa menemukan peluang untuk bangkit. Namun, ini memerlukan asumsi bahwa risiko eksternal mereda dan rantai pasokan energi stabil.
Pertanyaan yang tersisa adalah apakah pasar saham Korea akan mengakhiri guncangan eksternal ini sebagai reaksi 'menghindari ketakutan' sementara, atau membangun struktur stabil baru melalui respons dan transformasi di sektor energi, keuangan, dan industri. Pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur untuk menilai ketahanan ekonomi Korea dan daya saing masa depannya.
Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi AI berdasarkan sumber yang tersedia untuk publik dan telah melalui proses verifikasi fakta dan sumber The Gist. Sumber asli tercantum di bawah. Kesalahan dan koreksi: corrections@thegist.co.kr
Sumber
- S1 — CHOSUNBIZ2026-07-24 · diakses 2026-09-10
- S2 — CSIS2026-07-25 · diakses 2026-09-10
- S3 — CHOSUNBIZ2026-08-20 · diakses 2026-09-10
- S4 — Seoul Economic Daily2026-07-14 · diakses 2026-09-10
- S5 — KEIA2026-07-30 · diakses 2026-09-10